Kamis, 21 Januari 2021,
SELAMAT DATANG DI PERPUSTAKAAN LOMBOK BARAT NUSA TENGGARA BARAT

Kamis, 03 Des 2020, 08:38:33 WIB, 48 View Administrator, Kategori : KOLOM

Gerakan Inisiasi Membaca Sejak Usia Dini Menggunakan Media Dongeng


Oleh: Heny Murdianti, S.Ag

Pustakawan Muda DISARPUS Kabupaten Lombok Barat


Al-ummu madrosatun ula, seorang ibu adalah sekolah yang pertama bagi anak-anaknya, tulis Hafiz Ibrahim dalam sebuah syairnya. Syair ini seolah-olah ingin menegaskan bahwa seorang ibu adalah pendidik utama bagi anak dalam sebuah rumah tangga.

Madrasah dalam bahasa Arab berarti tempat atau wahana untuk mengenyam proses pembelajaran. Tetapi dalam terminologi Bahasa Indonesia, madrasah disebut dengan sekolah yang berarti bangunan atau lembaga untuk belajar dan memberi pengajaran, karenanya istilah madrasah tidak hanya diartikan sekolah dalam arti sempit, tetapi juga bisa dimaknai rumah, istana, kuttab, perpustakaan, surau masjid dan lain-lain, bahkan seorang ibu juga bisa dikatakan sebagai madrasah (Hasyim Baiturrahman @ basiangan.blogspot.co.id).

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, sebagai seseorang yang menyandang predikat “ibu rumah Tangga” sudahkahkah setiap orangtua khususnya ibu melaksanakan peran strategis dalam rumah tangga sebagai madrasah yang senantiasa memiliki visi untuk mencerdaskan anak-anak yang telah  diamanahkan Allah?

Ketika menjalankan peran seorang ibu sebagai madrasah/sekolah dalam rumah tangga, jangan membayangkan bahwa seorang ibu hanya bertugas untuk mentransfer ilmu pengetahuan sebanyak mungkin kepada anak-anak layaknya sebuah sekolah. Tapi lebih dititikberatkan pada usaha untuk memaksimalkan peran tersebut dengan berusaha menjadi “good model” bagi anak-anak setiap saat. Karena pada umumnya, anak-anak adalah “the most excellent imitater” yang akan merekam setiap gerak-gerik dan perilaku orangtua mereka sebagaimana dikatakan dalam teori bandura yang dikutip oleh Agung Nugroho Adhi pada website www.duniaperpustakaan.com bahwa “orang tua adalah model yang akan ditiru oleh anak-anaknya”.

Ibarat sebuah kanvas yang keindahan tampilannya sangat bergantung dari hasil goresan yang ditorehkan oleh pelukisnya, begitupun perilaku dan kebiasaan anak yang merupakan pantulan dari perilaku dan kebiasaan orangtuanya.

Terkait dengan visi orangtua khususnya ibu untuk mencerdaskan anak-anak mereka, hal penting apa saja yang telah dilakukan oleh setiap orangtua terutama ibu untuk mewujudkan visi tersebut?

Tak perlu menghayalkan deretan trik-trik hebat yang harus dilakukan oleh setiap ibu untuk membuat anak-anak  mereka menjadi cerdas. Cukup dengan cara berusaha menanamkan kebiasaan membaca sejak dini kepada anak-anak, merupakan modal bagi anak yang bisa  mereka jadikan embrio emas bagi perkembangan wawasan keilmuan anak menjadi “pemamah intelektual” (meminjam istilah syafii ma’arif) di kemudian hari.

Namun faktanya, menanamkan kebiasaan membaca sejak dini pada diri anak tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu ketekunan, usaha keras dan niat yang kuat dari orangtua khususnya ibu yang merupakan madrasah bagi anak agar terkondisi menjadi anak-anak yang terbiasa menghabiskan waktu luang dengan membaca.

“Gerakan inisiasi menyusui sejak usia dini” telah sukses menggugah kesadaran sebagian besar ibu rumah tangga di Indonesia untuk memberikan ASI eksklusif selama dua tahun setelah para ibu diberikan pencerahan  tentang manfaat ASI yang sangat luar biasa bagi tumbuh kembang anak dimasa yang akan datang, oleh karena itu duplikasi gerakan tersebut dalam konteks stimulasi minat baca anak sejak usia dini bukan mustahil bisa dilaksanakan.

Agar para ibu memiliki persepsi yang sama tentang apa itu “gerakan inisiasi membaca sejak usia dini menggunakan media dongeng”, berikut dipaparkan tentang beberapa pengertian dan istilah yang  terkait dengan pembahasan ini yaitu:

a. Pengertian gerakan.

Dalam id.wikipedia.org dikatakan bahwa gerakan adalah tindakan terencana yg dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat disertai program terencana untuk mencapai suatu perubahan.

b. Pengertian inisiasi

Inisiasi secara etimologi berasal dari bahasa inggris yaitu kata initiate yang berarti memulai suatu kegiatan.

c. Pengertian membaca

Sepanjang pengetahuan penulis, membaca adalah sebuah kegiatan yang dilakukan secara perseorangan atau berkelompok dalam rangka berusaha untuk mendapatkan sebuah informasi dari sumber informasi yang berbentuk buku  ataupun elektronik. Pencarian informasi tersebut bertujuan untuk memperkaya wawasan intelektual pencari informasi. Tapi agar kita lebih memahami pengertian membaca secara lebih mendalam, maka berikut penulis kutipkan beberapa pengertian membaca menurut para ahli yang bersumber dari www.kajianpustaka.com. Diantaranya adalah:

1. Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media bahasa tulis (Tarigan, 1984:7).

2. Membaca adalah suatu kegiatan atau cara dalam mengupayakan pembinaan daya nalar (Tampubolon, 1987:6).

3. Harjasujana (1996:4) mengemukakan bahwa membaca merupakan proses. Membaca bukanlah proses yang tunggal melainkan sintesis dari berbagai proses yang kemudian berakumulasi pada suatu perbuatan tunggal.  Membaca diartikan sebagai pengucapan kata-kata, mengidentifikasi kata dan mencari arti dari sebuah teks. Sedangkan hakikat membaca menurut syafi’I (1999: 6-7) adalah sebagai berikut:

  • Pengembangan keterampilan, mulai dari keterampilan memahami kata-kata, kalimat-kalimat, paragraf-paragraf dalam bacaan sampai dengan memahami secara kritis dan evaluatif keseluruhan isi bacaan. 
  • Kegiatan visual, berupa serangkaian gerakan mata dalam mengikuti baris-baris tulisan, pemusatan penglihatan pada kata dan kelompok kata, melihat ulang kata dan kelompok kata untuk memperoleh pemahaman terhadap bacaan. 
  • Kegiatan mengamati dan memahami kata-kata yang tertulis dan memberikan makna terhadap kata-kata tersebut berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah dipunyai. 
  • Suatu proses berpikir yang terjadi melalui proses mempersepsi dan memahami informasi serta memberikan makna terhadap bacaan. 
  • Proses mengolah informasi oleh pembaca dengan menggunakan informasi dalam bacaan dan pengetahuan serta pengalaman yang telah dipunyai sebelumnya yang relevan dengan informasi tersebut. 
  • Proses menghubungkan tulisan dengan bunyinya sesuai dengan sistem tulisan yang digunakan. 
  • Kemampuan mengantisipasi makna terhadap baris-baris dalam tulisan. Kegatan membaca bukan hanya kegiatan mekanis saja, melainkan merupakan kegiatan menangkap maksud dari kelompok-kelompok kata yang membawa makna.

d. Pengertian usia dini

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan 5 perkembangan, yaitu : perkembangan moral dan agama, perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan kognitif (daya pikir, daya cipta), sosio emosional (sikap dan emosi) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan sesuai kelompok usia yang dilalui oleh anak usia dini seperti yang tercantum dalam Permendiknas no 58 tahun 2009.

Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan usia dini yaitu:

  • Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan pada masa dewasa.
  • Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah, sehingga dapat mengurangi usia putus sekolah dan mampu bersaing secara sehat di jenjang pendidikan berikutnya.

Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun (masa emas). Rentangan usia tersebut kemudian dikategorikan menjadi beberapa ruang lingkup yaitu:

- Infant (0-1 tahun)

- Toddler (2-3 tahun)

- Preschool/Kindergarten children (3-6 tahun)

- Early Primary School (SD kelas awal dengan rentang usia antara 6-8 tahun)

e. Pengertian media

Dalam website www.pengertianahli.com disebutkan bahwa media adalah segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan informasi atau pesan. Kata media berasal dari kata latin, merupakan bentuk jamak dari kata “medium”. Secara harfiah kata tersebut mempunyai arti "perantara" atau "pengantar", yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan penerima pesan (a receiver). Jadi, dalam pengertian yang lain, media adalah alat atau sarana yang dipergunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak.

Untuk lebih memahami pengertian media secara lebih mendetail, berikut dikutipkan beberapa definisi media menurut para ahli masih dari sumber yang sama, yaitu:

  • Menurut Syaiful Bahri Djamarah: Media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan.
  • Menurut Schram: Media adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
  • Asociation of Education Comunication Technology (AECT): Media adalah segala bentuk dan saluran yang dipergunakan untuk proses penyaluran pesan.

Dan secara umum, media dibagi menjadi:

  • Media Visual: media visual adalah media yang bisa dilihat, dibaca dan diraba. Media ini mengandalkan indra penglihatan dan peraba. Berbagai jenis media ini sangat mudah untuk didapatkan. Contoh media yang sangat banyak dan mudah untuk didapatkan maupun dibuat sendiri. Contoh: media foto, gambar, komik, gambar tempel, poster, majalah, buku, miniatur, alat peraga dan sebagainya.
  • Media Audio: media audio adalah media yang bisa didengar saja, menggunakan indra telinga sebagai salurannya. Contohnya: suara, musik dan lagu, alat musik, siaran radio dan kaset suara atau CD dan sebagainya.
  • Media Audio Visual: media audio visual adalah media yang bisa didengar dan dilihat secara bersamaan. Media ini menggerakkan indra pendengaran dan penglihatan secara bersamaan. Contohnya: media drama, pementasan, film, televisi dan media yang sekarang menjamur, yaitu VCD. Internet termasuk dalam bentuk media audio visual, tetapi lebih lengkap dan menyatukan semua jenis format media, disebut Multimedia karena berbagai format ada dalam internet.

f. Pengertian dongeng

Dongeng menurut James Danandjaja adalah termasuk cerita rakyat lisan yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh empunya cerita. Dongeng juga tidak terikat oleh tempat maupun waktu, karena dongeng diceritakan terutama untuk menghibur. Meskipun demikian, banyak pula dongeng yang berisi ajaran moral, melukiskan kebenaran, bahkan ada pula jenis dongeng yang mengandung sindiran.

Tapi menurut hemat penulis, dongeng merupakan sebuah cerita yang merupakan hasil dari olah fikir dan fantasi imajiner seorang pengarang (empunya cerita). Pengarang tidak harus seseorang yang ahli dalam mengarang atau memiliki profesi sebagai pengarang, tetapi setiap personal mempunyai potensi untuk mengarang sebuah dongeng karena materi dongeng bisa diambil dari kejadian sehari-hari atau bersumber dari imajinasi seseorang yang kemudian dikemas dalam sebuah bingkai cerita yang disampaikan secara lisan.

Beberapa hal yang tak boleh dilupakan oleh pengarang adalah, hendaknya dongeng yang disampaikan berisi muatan pesan yang edukatif sekaligus menghibur. Dengan demikian, apa yang menjadi tujuan menceritakan sebuah dongeng yaitu untuk mengedukasi pendengarnya bisa tercapai. Dongeng terdiri dari beberapa jenis. Berikut penulis kutipkan jenis-jenis dongeng dari website www.pengertianahli.com yaitu:

  • Fabel adalah cerita yang menggambarkan watak dan budi manusia yang pelakunya diperankan oleh binatang. Contohnya seperti dongeng kancil mencuri ketimun

Karna dongeng bersifat fleksibel dan bisa direka-reka, maka hal tersebut akan lebih memudahkan para orang tua terutama ibu rumah tangga yang biasanya memiliki waktu yang lebih banyak dengan anak-anak untuk mengeksplorasi kejadian sehari-hari dan membungkusnya dalam sebuah cerita dengan menjadikan ayam, domba, kucing, dan burung yang biasa  dilihat oleh anak sebagai tokoh sentral dalam cerita fabel yang dikarang.

Selain bisa menjadikan aneka satwa sebagai tokoh dengan berbagai karakter dalam dongeng ciptaan para ibu, tak ada salahnya juga jika ibu mencoba untuk menjadikan boneka-boneka satwa kesayangan anak di rumah untuk dihidupkan sebagai tokoh dalam dongeng imaji ciptaan ibu.

Tak pandai mengarang dongeng tak lantas menjadikan orangtua khususnya ibu menjadi malas untuk mendongeng. Ada banyak media yang bisa ibu gunakan untuk mendongeng, salah satunya dengan membacakan buku cerita sebagai medianya. Menurut ahli pendidikan anak Jim Trelease seperti yang dikutip oleh Nina M. Armando dalam artikelnya “Dongeng, Buku Cerita dan Motivasi Berprestasi”, menyebutkan bahwa membacakan cerita kepada anak memiliki beberapa fungsi: membantu anak mengembangkan kosakata, menstimulasi imajinasinya, melebarkan rentang perhatiannya, menyuburkan perkembangan emosionalnya, dan memperkenalkan susunan nuansa bahasa.

Melihat fungsi dan manfaat yang demikian hebat dari kegiatan membacakan dongeng untuk anak, betapa majalnya mata hati para orangtua jika tidak berusaha mulai dari sekarang untuk menyisihkan waktu sekitar lima belas atau dua puluh menit dalam sehari untuk mendongeng atau membacakan buku cerita untuk anak-anak.

Jika dana untuk membeli buku cerita tidak masuk dalam daftar kebutuhan bulanan rumah tangga, orangtua bisa memanfaatkan perpustakaan yang ada di lokasi sekitar tempat tinggal yang bisa dijadikan sumber untuk mendapatkan buku cerita/dongeng untuk anak dirumah.  

  • Legenda adalah dongeng yang menceritakan peristiwa yang berhubungan dengan keajaiban alam, biasanya berisi tentang kejadian suatu tempat. Contohnya seperti dongeng terjadinya danau toba.
  • Mite adalah dongeng yang menceritakan tentang  dewa-dewa dan makhluk halus. Contohnya seperti dongeng Nyi Roro Kidul
  • Sage adalah dongeng yang menceritakan tentang seorang tokoh yang berkaitan dengan sejarah. Sage biasanya menyebar dari mulut ke mulut sehingga lama kelamaan terdapat tambahan cerita yang bersifat khayal. Contohnya seperti dongeng Joko Tingkir
  • Parable adalah dongeng yang ceritanya mengandung nilai-nilai pendidikan atau cerita pendek dan sederhana yang mengandung ibarat atau hikmah sebagai pedoman hidup. Contohnya seperti dongeng si Malin Kundang.

Untuk jenis dongeng yang kedua hingga terakhir, bisa disesuaikan dengan cerita atau sejarah yang sesuai dengan karakteristik daerah tempat tinggal masing-masing.

Itulah beberapa jenis dongeng yang bisa dijadikan sebagai sumber inspirasi dalam mengarang sebuah dongeng untuk anak-anak dirumah. Semakin variatif dongeng yang dikarang dan berikan pada anak, efeknya akan semakin bagus untuk memperkaya imajinasi mereka.

Selain mendatangkan keuntungan untuk anak, aktifitas mendongeng juga bisa mendatangkan keuntungan untuk orangtua/ibu yang menyampaikan dongeng kepada anak, selain dampak hubungan emosional yang semakin dekat dengan anak, kegiatan mendongeng akan mencetak ibu rumah tangga  menjadi ibu yang melek media dan memiliki pola fikir yang kreatif dan aktif..

Oleh karena itu walaupun terkesan ringan, tapi jangan pernah menyepelekan manfaat dongeng bagi anak yaitu sebagai media yang bisa dijadikan sebagai mesin imajiner untuk melejitkan fantasi dan imajinasi anak melebihi harapan orangtua.

Seperti yang ditulis oleh Nina M. Armando dalam sebuah rubrik majalah online yang sudah lama digawanginya menyebutkan bahwa:  Dongeng bermanfaat untuk anak karena menimbulkan fantasi. Fantasi merupakan fungsi yang memungkinkan manusia untuk berorientasi dalam alam imajiner, melampaui dunia riil.

Apa yang disampaikan oleh Nina M. Armando tentu tidak berlebihan karena pada kenyataannya dunia anak memang tidak pernah jauh dari dunia fantasi. Bahkan bisa dikatakan jika imajinasi anak-anak mampu melampaui daya nalar orang dewasa. Hal inilah kemudian yang menjadi penyebab, dalam kasus tertentu terkadang anak-anak mampu melihat apa yang tak tampak  oleh orang dewasa dan mampu memikirkan apa yang tak terbersit dalam fikiran orang dewasa. Itulah kekuatan imajinasi yang mampu meleburkan sekat-sekat yang tanpa disadari terkadang mengungkung daya fikir manusia yang disebut dewasa.

Dalam tulisan tersebut, Nina M. Armando juga mengutip enam manfaat fantasi menurut Suryabrata seorang tokoh psikologi, yaitu:

  • Fantasi memungkinkan orang menempatkan diri dalam kepribadian orang lain.

Kemampuan anak untuk membayangkan berbagai karakter tokoh-tokoh dalam sebuah dongeng dengan menggunakan imajinasi yang mereka miliki akan lebih memudahkan anak-anak untuk memahami karakter manusia yang ada disekitar lingkungan mereka, baik karakter protagonis maupun antagonis.

  • Fantasi memungkinkan orang untuk menyelami sifat-sifat kemanusiaan pada umumnya. 

Di dalam kehidupan sehari-sehari, dibutuhkan kesadaran dan kesabaran yang tinggi untuk mengenalkan konsep empati pada anak dengan tujuan agar anak memiliki empati yang tinggi terhadap sesama. Sikap empati dibutuhkan agar anak mampu merasakan atau setidaknya belajar mengidentifikasi persoalan yang sedang dihadapi oleh orang lain ketika terbentur dalam sebuah masalah. Dan fantasi adalah modal penting bagi anak untuk memahami dan mengaplikasikan sikap empatik tersebut.

  • Fantasi memungkinkan seseorang  untuk melepaskan diri dari ruang dan waktu. 

Anak yang memiliki fantasi yang tinggi akan mampu menghayalkan suatu tempat yang mereka bangun dalam imaji mereka. Tempat yang mungkin tidak ada dalam dunia nyata tapi hidup begitu nyata dalam alam maya mereka. Kemampuan anak untuk menghidupkan dunia imajiner akan berdampak pada kemudahan yang akan mereka dapatkan untuk memahami kejadian di tempat dan waktu yang lain contoh sederhana ketika mereka belajar tentang geografi dan sejarah.

  • Fantasi memungkinkan orang untuk melepaskan diri dari kesukaran yang dihadapi. Fantasi pula yang bermanfaat untuk melupakan kegagalan di masa lampau.
  • Fantasi memungkinkan orang untuk menyelesaikan konflik riil secara imajiner.

Ketika terbentur dalam sebuah masalah, tanpa disadari fantasi ikut mengambil peranan untuk memikirkan beberapa jalan keluar yang akan diambil untuk mengatasi sebuah masalah. Memikirkan apa yang menjadi penyebab timbulnya permasalahan dan hal apa saja yang akan dilakukan untuk mengantisipasi agar masalah yang sama tidak timbul kembali. Fantasi juga bisa dijadikan tuntunan dalam berfikir tentang ke-Maha besaran Allah sebagai pemberi jalan keluar dari setiap masalah pelik yang sedang dihadapi. Jika setiap pribadi mampu mengarahkan dan mengelola fantasi yang dimiliki untuk menyelesaikan konflik di luar alam imajiner pemiliknya, maka hal tersebut bisa berfungsi untuk membantu mengurangi ketegangan psikis serta mampu menjaga kesimbangan batiniah setiap personal..

  • Fantasi memungkinkan manusia untuk menciptakan sesuatu yang dikejar, membentuk masa depan yang ideal dan berusaha merealisasikannya.

Sebagai makhluk sosial yang membutuhkan pengakuan akan eksistensi diri, tentulah setiap diri memiliki ribuan asa yang terpatri dalam alam imaji seseorang. Untuk mewujudkan asa tersebut menjadi kenyataan, fantasi akan membantu seseorang  untuk membuat pola tentang hal-hal apa saja yang harus diraih agar disebut sukses. Dan apa saja terobosan yang akan dilakukan untuk mewujudkan kesuksesan itu.

Itulah enam manfaat fantasi bagi kehidupan. Dan untuk memaksimalkan potensi imajinasi dalam diri anak, maka orangtua harus berusaha untuk menstimulasi fantasi anak-anak sejak dini menggunakan media dongeng atau dengan cara membacakan buku-buku cerita secara langsung.

Anak yang sering dibacakan buku cerita atau dongeng oleh orangtuanya akan lebih mudah memperoleh pedoman untuk tingkah lakunya, hal ini disebabkan karena ketika proses kegiatan pembacaan buku cerita terjadi, secara tidak langsung anak-anak belajar untuk mengidentifikasi berbagai karakter manusia yang terdapat dalam buku cerita yang dibacakan untuk mereka. Selain itu, kebiasaan membacakan cerita untuk anak akan memperkaya kosakata mereka dan merupakan bentuk pelatihan agar anak suka membaca.

Membaca merupakan kegiatan yang bisa mendatangkan banyak manfaat bagi pelakunya. Dengan membaca, seseorang akan memiliki wawasan keilmuan yang luas. Hanya saja banyak orang tua yang belum menyadari betapa banyak manfaat yang akan diperoleh anak jika mereka terbiasa membaca buku sejak dini.

Kecendrungan orangtua untuk mengajak anak-anak mereka untuk menghabiskan waktu ke wahana-wahana permainan yang berbau modernitas dibanding mengajak anak-anak mereka untuk menghabiskan waktu ke perpustakaan ataupun ke toko buku bisa menjadi gambaran bahwa kegiatan membaca belum menjadi kebutuhan dan kebiasaan bagi sebagian besar keluarga di Indonesia.

Kurangnya kesadaran tentang manfaat membaca bisa dikatakan menjadi salah satu penyebab kenapa minat baca di masyarakat pada umumnya dan di lingkungan keluarga khususnya masih jauh dari harapan.

Indikasi bahwa masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai budaya (kebiasaan) yang tak terpisahkan dari kegiatan sehari bisa dilihat dari hasil survey dibawah ini.

 

 

 

 

 

Melihat hasil survey di atas, jelas terlihat bahwa minat baca di Indonesia masih rendah. Jika orangtua tidak merasa tergerak untuk melakukan terobosan atau langkah antisipasi agar anak-anak mereka tidak termasuk pada golongan anak yang memiliki minat baca yang rendah setelah melihat hasil survey di atas, dengan alasan bahwa untuk  menumbuh kembangkan minat baca anak-anak bukan tugas ibu rumah tangga melainkan tugas guru di sekolah, maka mulai dari sekarang para orangtua khususnya ibu harus berusaha merubah pola fikir bahwa tugas menumbuh kembangkan minat baca anak-anak bukan hanya tugas guru di sekolah tapi juga menjadi tanggung jawab seorang ibu yang merupakan pendidik pertama dan utama di rumah.

Terobosan yang bisa dilakukan oleh para orangtua untuk mendongkrak minat baca anak di rumah tidak harus dengan cara-cara frontal dan spektakuler. Karena masih ada cara  sederhana  yang jika dilakukan dengan penuh kedisiplinan dan terus menerus bisa menghasilkan sesuatu yang spektakuler. Contoh sederhana adalah seperti apa yang telah disampaikan diatas yaitu dengan cara menstimulasi  minat baca anak sedini mungkin dengan menggunakan dongeng sebagai medianya.

Coba bayangkan jika setiap hari seorang ibu meluangkan waktu minimal lima belas menit setiap hari untuk membacakan cerita bagi anak-anak di rumah, jika hal tersebut terus menerus dilakukan sepanjang tahun, maka bisa dihitung seberapa banyak informasi, nilai agama, nilai moral, etika, kosakata, pengetahuan science sederhana yang terdapat dalam buku yang dibacakan oleh ibu akan diserap dan didapatkan oleh anak selama mereka di rumah.

Jika kebiasaan tersebut dipupuk setiap hari maka tanpa disadari oleh anak,  akan tumbuh rasa butuh untuk terus menggali hal-hal baru dari buku-buku yang dibacakan oleh para ibu. Jika perasaan butuh untuk mencari hal-hal baru dari kegiatan membaca sudah tumbuh dalam diri anak, maka minat baca pada anak akan tumbuh dengan sendirinya. Jika minat anak terhadap buku sudah menjadi denyut dalam setiap rumah tangga, maka bisa dibayangkan setiap rumah tangga akan mampu memberikan investasi kepada Negara berupa anak-anak yang tak sekedar memiliki minat baca dan keingintahuan yang tinggi tetapi juga cerdas dan berkarakter.  

Pepatah yang mengatakan ringan sama dijinjing berat sama dipikul sudah barang tentu tidak asing ditelinga kita. Jika kegiatan membaca dongeng diupayakan oleh para ibu secara bersama-sama tentu akan menghasilkan semangat yang berbeda jika dilakukan sendiri-sendiri. Secara bersama-sama tidak berarti harus berkumpul ditempat dan dan waktu yang sama. Tetapi kebersamaan bisa dibangun dengan cara membentuk sebuah komunitas yang bergerak bersama menyatukan asa dan langkah untuk membangun sebuah ikhtiar dilingkungan masing-masing dimulai dengan menggugah kesadaran para ibu rumah tangga untuk menjadikan kegiatan membaca cerita/dongeng sebagai kegiatan wajib di rumah tangga masing-masing.

Jika kegiatan wajib mendongeng atau membacakan buku cerita untuk anak di rumah didukung pula oleh para pemegang kebijakan dengan cara membuat duplikasi kegiatan tersebut di sekolah-sekolah, maka akan tercipta suatu gerakan besar yang akan mengarahkan anak-anak untuk menjadi pencinta buku (ilmu). Gerakan besar yang lahir dari kegiatan kecil tetapi rutin dilakukan disetiap rumah tangga bukanlah sekedar isapan jempol belaka.

Setelah tujuan untuk menumbuhkan minat baca pada anak telah tercapai, bukan berarti tugas orangtua khususnya ibu sudah selesai. Tapi hendaklah orangtua tetap menjaga atmosfer kecintaan anak terhadap buku tetap menancap kuat dalam ingatan anak dengan cara menunjukkan kepada anak bahwa orangtua juga telah menjadikan kegiatan membaca sebagai sebuah kebutuhan. Hal ini akan menegaskan kepada anak bahwa betapa pentingnya sebuah buku bagi orang tua sehingga sekalipun sudah disebut sebagai makhluk dewasa, orang tua tetap akrab dengan buku. Sikap orang tua seperti inilah yang akan terus direkam oleh anak, sehingga anak-pun akan tumbuh menjadi anak-anak yang menjadikan kegiatan membaca sebagai sebuah kegiatan wajib dalam setiap denyut kehidupan mereka.

NB:

Tulisan ini masih sangat jauh dari kriteria sempurna. Mohon bimbingan untuk perbaikan tulisan tiang dimasa yang akan datang pak….  Terimakasih…

 

Daftar Pustaka


 

· Hafiz Ibrahim @ Ar-Encyclopedia.blogspot.co.id/2013/03/blog-post_9717.html

· Hasyim Baiturrahman @ basiangan.blogspot.co.id

· www.pengertianahli.com/download-2015/10

· Kamus Besar Bahasa Indonesia online

· Nina M. Armando; Dongeng, Buku Cerita dan Motivasi Berprestasi @ www.majalah-ummi.com

· www.sumberinformasi-pendidikan.com

· Harjasujana, A.S. & Damaianti, V.S. 2003. Membaca dalam Teori dan Praktik. Bandung: Mutiara.

· Tampubolon, DP. 1987. Kemampuan Membaca: Teknik Membaca Efektif dan Efisien. Bandung: Angkasa.

· Tarigan, Henry Guntur. 1984. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

· id.wikipedia.org (download pukul 08.31 tgl 15/09/2015)

· www.kajianpustaka.com

· OECD programme for international student assessment

· IEA (International association for the Evaluation Achievement 2006)

· Human Development Report 2006

 



Kamis, 10 Sep 2020 PUSTAKAWAN PRENEUR


Tuliskan Komentar