Jumat, 27 November 2020,
SELAMAT DATANG DI PERPUSTAKAAN LOMBOK BARAT NUSA TENGGARA BARAT

Kamis, 10 Sep 2020, 07:40:24 WIB, 80 View Administrator, Kategori : KOLOM

“PUSTAKAWAN PRENEUR”

Oleh: Heny Murdianti, S.Ag

Pustakawan Muda DISARPUS Kabupaten Lombok Barat

 

Akhir-akhir ini, berita tentang kasus anak-anak yang kecanduan gadget semakin marak. Bahkan beberapa diantara mereka ada yang diberitakan masuk rumah sakit jiwa untuk menjalankan perawatan intensif demi memutus mata rantai ketergantugan mereka pada gadget.[1]

Berita ini tentu sangat meresahkan sekaligus membawa keprihatinan tersendiri bagi masyarakat pada umumnya, terlebih bagi orangtua anak yang terdampak dan terpapar secara langsung oleh gadget itu sendiri.

Dampak buruk yang diakibatkan oleh ketergatungan anak pada gadget secara berlebihan, tak hanya menjadi petaka bagi keluarga si anak yang terpapar oleh gadget, tetapi juga menjadi masalah baru bagi lingkugan sekitarnya.  Karena selain masih banyak persoalan sosial yang belum tuntas  diselesaikan oleh pemerintah bersama masyarakat, kasus ketergantungan anak yang berlebihan pada gadget  menambah panjang daftar pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah dan masyarakat. 

Kita tentu tak bisa mengabaikan fakta bagaimana anak-anak yang hidup di era serba digital seperti  sekarang, lebih rentan menjadi korban ketergantungan pada gadget. Hal ini disebabkan karena beberapa hal, diantaranya adalah pola pengasuhan yang keliru dari sebagian besar orangtua atau keluarga dimana anak tumbuh dan berkembang, gaya hidup orangtua yang begitu tergantung pada kecanggihan teknologi dan terkadang tak menyadari mereka juga mentransfer ke anak-anak mereka pola hidup hedonis sehingga terkesan abai dan lebih mementingkan penampilan luar ketimbang memiliki pengetahuan yang luas dan adab yang menawan  dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh nyata dari pola pengasuhan orangtua yang keliru adalah adanya sekelompok orangtua yang minim pengetahuan parenting, atau dari sisi akademis mungkin mumpuni, tapi atas nama efisiensi waktu dan pekerjaan rumah tangga yang maha penting, mereka lebih memilih gawai  dengan teknologi canggih yang  dilengkapi fasilitas quota tanpa batas dengan segudang aplikasi permainan keren untuk MENENANGKAN anak-anak mereka[2].

Sebagian lagi memberikan kompensasi atas kekurangan waktu mereka bersama anak tersebab tuntutan pekerjaan yang mengharuskan mereka lebih banyak berada di tempat kerja dengan membelikan barang-barang mewah termasuk di dalamnya gadget dengan bandrol harga yang fantastis, kemudian membiarkan anak-anak  mereka  bermain dengan gawai tersebut tanpa pengawasan dan aturan jelas yang telah disepakati antara orangtua dan anak, kapan saja anak boleh dan tidak boleh menggunakan gadget. Semua atas nama perasaan bersalah dan atas nama demi MENYENANGKAN anak.

Dua kekeliruan pola asuh di atas kemudian semakin diperparah ketika anak-anak tersebut menyaksikan bagaimana orangtua mereka di rumah menghabiskan lebih banyak waktu dengan gawai kesayangan mereka selepas bekerja, ketimbang menghabiskan waktu bersama mereka. Sehingga tanpa disadari, yang terekam dalam benak anak adalah gadget itu menyenangkan, jauh lebih penting dan merupakan suatu kewajaran dan hal biasa.

Sepintas, pilihan para orangtua pada contoh kasus tersebut terlihat wajar dan  benar. Anak-anak yang diberi gadget akan tenang, senang, tidak mengganggu pekerjaan yang akan dan sedang mereka lakukan dan tentunya terhibur dengan seluruh fitur serta aplikasi permainan keren dalam gadget tersebut.

Hanya saja pilihan tersebut merupakan pilihan keliru dan tak bertanggung jawab, tanpa disadari rasa “TENANG dan SENANG”  yang mereka berikan melalui gadget adalah ketenangan dan kesenangan semu yang berpotensi mematikan kreativitas anak, menumpulkan kepekaan anak terhadap lingkungan sekitar dan dampak yang paling parah adalah anak terjerumus dalam jerat ketergantungan pada gadget.[3]

Selain beberapa potensi bahaya di atas, anak-anak yang dibiarkan menggunakan gadget secara berlebihan tanpa batasan dan pengawasan dari orang tua,  berpotensi lebih besar menjadi korban cyber crime dibanding anak yang tak terlalu banyak berinteraksi dengan gadget. Kemungkinan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi asosial maupun menjelma menjadi pribadi-pribadi yang lebih mementingkan bungkus dan lupa pada isi juga esensi hidup yang sesungguhnya bisa saja akan menimpa mereka.  [4] 

Lantas, siapakah yang patut dipersalahkan pada beberapa contoh kasus di atas?

Orangtua dan keluarga korban, perusahaan yang membuat gadget dengan fitur-fitur teknologi canggih,  pemerintah yang tak tegas membuat regulasi tentang penggunaan gadget bagi anak di bawah umur, ataukah masyarakat sekitar yang bersikap masa bodoh dengan urusan orang lain?

Mencari kambing hitam untuk mengetahui siapa yang harus disalahkan dan paling bertanggung jawab untuk kasus di atas bukanlah solusi. Yang paling penting saat ini adalah, bagaimana semua  elemen masyarakat mulai dari elit pemerintahan hingga lingkup terkecil masyarakat paling bawah yaitu keluarga, bersinergi membuat langkah kecil yang berdampak pada aksi nyata untuk meminimalisir bertambahnya korban anak-anak yang ketergantungan pada gadget.  

Di sinilah komitmen dan kreativitas seorang pustakawan kemudian diuji. Akankah mengambil peran dalam sinergi yang dimaksud, ataukah hanya sekedar  menjadi penonton yang manis.

Pustakawan dalam pandangan awam kebanyakan orang, memang tak lebih dari seorang penjaga buku, profesi paling santai, minim pekerjaan dan tak jarang dipandang sebelah mata.

Padahal sebaliknya, seorang pustakawan memiliki tanggung jawab moral yang besar atas predikat pustakawan yang disandangnya. Karena selain harus menguasai ilmu tentang kepustakawanan, seorang pustakawan harus  menjadi pionir sekaligus tokoh sentral dalam pengembangan dunia literasi, baik di tempat tugas maupun di lingkungan masyarakat di mana ia tinggal dan menetap.

 Sebagai pionir dan tokoh sentral dalam pengembangan dunia literasi, seorang pustakawan dituntut agar mampu secara terus menerus menjadi “the book influencer” dan tak bosan melakukan sounding sekaligus edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya literasi (kegiatan membaca dan menulis) untuk dijadikan sebagai kegiatan rutin dalam sebuah keluarga dengan harapan kegiatan rutin tersebut bisa menjadi salah satu solusi yang menghangatkan kembali hubungan anak dan orangtua, juga  meminimalisir kecanduan anak pada gadget.[5]

Sounding dan edukasi tersebut  bisa dilakukan secara langsung ketika sang pustakawan bertugas memberikan pembinaan ataupun melakukan layanan perpustakaan keliling ke sekolah-sekolah. Alternatif lainnya, sounding dan edukasi tentang literasi bisa diberikan secara tertulis melalui media-media sosial.

Tanggung jawab moral seorang pustakawan tak selesai hanya pada pemberian edukasi tentang pentingnya literasi, tapi seorang pustakawan juga dituntut untuk meyelaraskan kata dan perbuatan. Sounding dan edukasi yang telah diberikan kepada masyarakat harus terlebih dahulu diaplikasikan oleh seorang pustakawan dalam kesehariannya.

Seorang pustakawan harus mampu membranding diri dan keluarganya bahwa mereka adalah keluarga pecinta literasi dengan memberikan contoh bahwa belanja buku merupakan sebuah kebutuhan dan keharusan sebagaimana butuhnya kita pada makanan dan minuman. Selain itu, kegiatan membaca bersama keluarga bisa dijadikan media untuk meningkatkan bonding, sehingga relasi antara anak dan orangtua tetap hangat setelah seharian seluruh anggota keluarga sibuk dengan urusan masing-masing, adalah contoh lain yang bisa dilakukan seorang pustakawan untuk merubah cara pandang masyarakat di sekitar lingkungannya tentang literasi.

Karena bagaimana mungkin dapat membangun kepercayaan orang lain tentang kehangatan yang didapatkan oleh orangtua dan anak melalui kegiatan literasi, jika sang pustakawan yang telah memberikan edukasi tentang pentingnya literasi, tak pernah terlihat bersinggungan dengan denyut literasi itu sendiri; jarang menulis, enggan membeli buku dan membaca buku bahkan aktivitas keluarganya jauh dari buku.

Goals dari branding, sounding dan contoh nyata yang diberikan secara terus menerus, diharapkan bisa menggugah cara berpikir masyarakat bahwa dunia literasi itu asyik dan seru. Dan yang terpenting, perubahan cara berpikir tersebut kemudian akan mengkristal menjadi sebuah keyakinan bahwa kegiatan literasi dapat menjadi salah satu solusi yang bisa meminimalisir ketergantungan anak pada gadget secara berlebihan.

Oleh karena itu, sebanyak apapun rintangan idealisme untuk mewujudkan masyarakat melek literasi yang dihadapi di lapangan. Seorang pustakawan tak boleh menyerah kalah dengan keadaan ataupun oleh tembok-tembok birokrasi yang seringkali mematikan langkah.

Seorang pustakawan harus kaya dengan ide-ide brilliant. Harus pandai melihat peluang, juga cerdik mengubah kesempitan dan keterbatasan menjadi sebuah kekuatan.

Karena tanggung jawab moral pustakawan yang demikian besar ditambah keprihatinan melihat semakin banyak anak-anak yang tergantung pada gadget secara berlebihan, akhirnya menggerakkan saya untuk berani melakukan sebuah langkah kecil. Dengan harapan, langkah kecil tersebut akan menjadi embrio lahirnya sebuah  gerakan besar di kemudian hari. Langkah kecil itu saya sebut sebagai sebuah inisiasi untuk “menyalakan literasi dari rumah sendiri”.

 Memulai sebuah langkah, terlebih seorang diri, tentu akan terasa lebih berat jika dibandingkan dengan melangkah, berkumpul, kemudian bergerak bersama dengan komunitas yang memiliki frekuensi dan kecintaan yang sama terhadap literasi. Oleh karena itu, apa yang telah saya inisiasi mulai dari rumah sendiri memiliki tujuan jangka panjang yaitu, semakin banyak keluarga yang menyadari bahwa membeli dan membaca buku adalah kebutuhan otak yang memiliki prioritas yang sama seperti butuhnya kita pada makan dan minum.

Kesadaran tersebut kemudian akan bermuara pada kuatnya keinginan para keluarga pecinta literasi untuk membentuk sebuah perpustakaan pribadi di rumah masing-masing, dimana denyut kegiatan literasi bermula dan menyala sehingga menjadi lentera yang akan membawa manfaat untuk setiap anggota keluarga juga lingkungan sekitar.

Dan langkah awal yang saya pilih untuk mewujudkan rencana jangka panjang tersebut adalah menjadi pustakawan preneur spesialis buku-buku murah dan buku-buku premium. Langkah tersebut saya pilih untuk memudahkan saya secara pribadi menambah dan mendapatkan koleksi pustaka untuk perpustakaan pribadi di rumah, sekaligus menjadi jembatan peghubung antara keluarga lain sesama pecinta literasi dengan buku-buku murah dan berkualitas idaman mereka.

Memutuskan menjadi pustakawan preneur adalah salah satu cara saya menjawab tuntutan dan tantangan kreativitas seorang pustakawan dalam mengubah keterbatasan menjadi sebuah peluang, sekaligus pilihan cara bagaimana saya selaku pustakawan menjalankan tanggung jawab moral seorang pustakawan.

Karena bagi saya, profesi pustakawan dan profesi pengusaha buku adalah dua profesi yang bisa dijalankan dalam satu waktu. Saling menguntungkan dan mendukung antara profesi yang satu dan lainnya tanpa harus saling mengganggu.

Kenapa bisa demikian?

Karena kedua profesi tersebut memiliki misi yang sama, yaitu untuk mempengaruhi orang lain agar suka pada buku, senang membeli dan membaca buku. Juga memiliki tuntutan yang sama agar konsisten menulis, mengedukasi dan melakukan sounding tentang pentingnya literasi dan pentingnya mengenalkan dunia literasi pada anak sejak dini.

Dan dinding facebook adalah salah satu media yang saya gunakan untuk  memberikan edukasi dan melakukan sounding tentang pentingnya literasi. Edukasi saya sampaikan melalui tulisan. Dan sounding saya berikan dengan cara membagikan video dan photo-photo aktivitas anak-anak saya ketika sedang having fun bersama buku.

Cara-cara tersebut saya harapkan mampu menggugah kesadaran orang lain agar mereka lebih bersemangat membeli buku, kemudian membuat perpustakaan pribadi dan secara tak langsung akan berdampak pada semangat mereka untuk  menyalakan literasi di rumah masing-masing.

Ah, indahnya membayangkan jika semakin banyak keluarga di seluruh pelosok negeri berlomba-lomba menyalakan literasi dari rumah sendiri.

                                                                                                           

 

 

 


[1]  https://www.youtube.com/watch?v=aUhxuYEI-fo

    https://www.youtube.com/watch?v=pNBssdU2TJc

    https://www.youtube.com/watch?v=anPdiCeLa-I

 

[2] https://nakita.grid.id/read/021855003/biar-anak-anteng-dan-tak-rewel-ayah-ini-selalu-berikan-handphone-sekarang-anak-tanggung-dampaknya-seumur-hidup?page=all

[3] https://www.merdeka.com/sehat/jangan-memberikan-gadget-pada-saat-anak-anda-rewel-kecanduan-gadget.html

[4] https://www.liputan6.com/tekno/read/3280354/ancaman-siber-meningkat-orangtua-harus-dampingi-anak-di-internet

[5] https://www.sehatq.com/artikel/manfaat-membaca-bersama-anak



Kamis, 10 Sep 2020 PUSTAKAWAN PRENEUR

Tuliskan Komentar