CIMG1423

Di Antara Buku, Jus dan Jazz

Oleh: Ninis Agustini Damayani

Di suatu hari pukul dua siang, seorang anak laki-lai mengenakan seragam sekolah dasar duduk di lantai kayu berwarna hitam sambil bersandar pada sebuah rak tinggi yang dipenuhi komik. Tangannya asyik membuka halaman-demi halaman komik Avatar. Di halaman luar, di ruang semi terbuka, tampak tiga mahasiswa bercelana jins dan kaos oblong serius menatap laptop yang terbuka di atas meja di hadapan mereka sambil bercakap-cakap. Tak berapa lama kemudian seorang pelayan dating menghantarkan makanan dan minuman yang mereka pesan. Percakapan terus berlangsung sambil menikmati pesanan tersebut.

Sementara di pojok ruang tampak dua orang anak SMA duduk berdampingan di kursi panjang coklat. Keduanya asyik membaca novel sambil sesekali menyeruput jus jeruk yang mereka pesan dari kafe di tempat itu. Musik mengalun lembut tanpa mengganggu aktivitas pengguna perpustakaan berbasis komunitas berlabel Zoe Comics Corner di jalan Pager Gunung ,Bandung itu. Di sana tersedia ruang baca semi terbuka dengan fasilitas hotspot untuk mereka yang menyukai komik khususnya komik Jepang dan novel Indonesia. Selain kegiatan membaca yang dijadwalkan hari Senin hingga Jumat, anggota juga dapat mengikuti berbagai kegiatan lain seperti klub bola, klub musik dan klub jurnalis kampus pada hari Sabtu dan Minggu.Tak jauh dari Zoe Comic Corner, kurang lebih 100 meter, ada sebuah tempat yang juga menyediakan bacaan berupa buku dan majalah dalam dan luar negeri. Tempat ini bernama “Potluck Coffe Bar and Library”. Sore itu sekelompok anak muda berpakaian rapi, yang laki-laki berdasi dan yang perempuan mengenakan blazer, tampak duduk berkelompok di sofa berwarna coklat tua pada sebuah ruangg berbentuk L. mereka ramai bercakap-cakap sambil membaca majalah-majalah berbahasa asing; Inggris, Jerman, Perancis atau Jepang yang mereka ambil dari rak-rak yang terpajang di ruang perpustakaan yang berada di sebelah kiri. Selain bacaan ringan, iringan musik lembut dan minuman dingin atau hangat serta kue-kue kecil seperti Strawberry Pie dan Blueberry Smootish juga menemani sore mereka.

Di pojok ruang dekat jendela, seornag perempuan muda mengenakan kaos hitam dan sepatu kets, yang juga berwarna hitam, serius menatap laptop di hadapannya. Kemudian dating dua orang perempuan yang mengenakan gaya busana serupa, berganbung dengannya. Sesekali mereka menyeruput cappuccino hangat yang baru saja disodorkan seorang pelayan. Alunan musik lembut selalu hadir menemani pengguna menghabiskan waktu untuk berkegiatan di tempat ini. Pengguna yang sebagain mahasiswa, tidak hanya dating untuk membaca dan menikmati menu kafe yang lezat, tetapi juga memanfaatkan fasilitas hotspot, mengerjakan tugas atau bertemu teman untuk berbagai urusan seperti diskusi atau sekedar ngobrol di perpustakaan berbasis komunitas ini.

Kegiatan serupa tapi lebih unik dapat pula kita jumpai di sebuah tempat bernama Tobucil yang menawarkan berbagai fasilitas. Seperti siag itu, tampak beberapa perempuan muda berkumpul di gazebo yang terletak di halaman sebuah rumah, sambil masing-masing memegang alat untuk merenda. Salah satu dari mereka memberi petunjuk tentang cara merenda diselingi gurau. Sementara itu di dalam ruangan seorang pria berdiri di depan rak buku berwarna coklat tua, matanya menyusuri deretan buku yang terpajang, sampai akhirnya dia menemukan dan membeli sebuah buku. Ini memang toko bernama Tobucil (Toko Buku Kecil) yang berada di jalan Aceh no 56 Bandung. Di sana lah sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, duduk berjajar mengikuti acara “Jazz and Books” dengan tema bahasan yang selalu berbeda. Masih banyak kegiatan lain yang mereka ikuti, speerti klum baca, madrasah falsafah Sophia, klub musik, klub belajar, klub nonton, klub nulis, klub hobi, dll.

Komunitas Literer

Memanfaatkan koleksi perpustakaan sambil makan dan minum, mendengarkan musik, bahkan ngobrol atau diskusi merupakan fenomena yang berkembang di Bandung. Berbeda dari pakem yang berlaku di dunia perpustakaan, di mana pengguna perpustakaan (pemustaka) tidak diperkenankan melakukan itu semua, fenomena di Bandung ini dianggap mampu membangun kegiatan literasi di tengan isu tentang terpuruknya minat baca masyarakat Indonesia. Fenomena ini digerakkan oleh individu-individu yang bergabung dalam wadah yang menamakan dirinya “Komunitas Literer Bandung”. Dicanangkan ;pertama kali di kota Bandung pada acara Book’s Day Out 17 September 2005 di Rumah Buku. Komunitas Literer Bandung dicetuskan pertama kali oleh Tobucil sebagai wujud visi dan misi Tobucil mendukung gerakan literasi di tingkat lokal. Selain itu, komunitas literer diharapkan dapat mengakomodasi pihak-pihak yang terkait dalam aktiviats literasi di kota Bandung, mulai dari toko buku, perpustakan, , penerbit, komunitas , kelompok kajian dan lain-lain.

Kota Bandung ternyata melahirkan banyak pergerakan yang mendukung kegiatan literasi. Lahirnya kelompok-kelompok pecinta baca-tulis di kota Bandung yang menamakan dirinya komunitas literer ini sangat berorientasi bottom up. Mereka menciptakan sendiri ruang yang dapat mengakomodasi kebutuhan mereka dalam menggali potensi diri melalui membaca dan menulis, serta kegiatan-kegiatan lainnya. Komunitas Literer Bandung dapat dikatakan sebagai orang-orang yang bergerak di dunia literasi yang tergabung dalam kelompok yang terbentuk seiring dengan bertumbuhnya perpustakaan berbasis komunitas di kota Bandung, seperti: Potluck Coffee Bar and Library, Zoe Comics Corner, Tobucil, Ultimus, Rumah Buku dan lain-lain. Menurut Evershed, perpustakaan berbasis komunitas pada umumnya memang berada di daerha di mana populasi penduduk tersebut memiliki akses terbatas terhadap literature, buku dan alat pembelajaran lainnya.

Komunitas Literer Bandung ini menjadi wadah bagi anggota-anggotanya untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dan juga sebuah upaya mendukung  kegiatan literasi melalui kegiatan yang berbasi pada berbagai aktivitas, tidak saja baca tulis tetapi juga apresiasi dan pengembangan hobi. Dengan kata lain, komunitas literer mengartikan literasi bukan hanya sekedar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan membaca lingkungan sekitar secara kritis dan cerdas, serta keberanian untuk memahami diri sebagai individu yang mandiri serta memiliki potensi untuk berkembang dan berkontribusi pada perubahan. Artian-artian baru itu tertuang tertuang misalnya lewat pendapat Tarlen dari Tobucil dalam diskusi “Literasi dan Resistensi” yang mengatakan,”Literasi bukan sekedar membaca dan menulis tapi seperti ungkapan ‘iqra’ yaitu bagaimana kita membaca makna apa-apa yang ada di hadapan kita.”

Sementara Achmad Bukhori menjelaskan bahwa

Literasi berarti kemampuan membaca dan menulis atau melek aksara yang dalam konteks sekarang berarti sangat luas yaitu bisa melek teknologi, politik, berpikiran kritis dan peka terhadap lingkungan sekitar.

Dapat dikatakan bahwa kegiatan literasi yang dilakukan oleh Komunitas Literer Bandung bukan sekedar meningkatkan kemampuan individu untuk membaca, menulis tetapi juga berbicara serta mengembangkan pengetahuan dan potensi diri seseorang. Komunitas ini menggunakan ruang-ruang yang ditawarkan perpustakaan berbasis komunitas untuk mengekspresikan kebutuhan  mereka akan informasi yang tidak hanya dalm bentuk cetak saja, tetapi juga membangun individu-individu pemelajar yang mampu berpikir bebas, kritis, cerdas dan bijak.

Artikel adaptasi dari buku: Merajut Makna: Penelitian Kualitatif Bidang Perpustakaan dan Informasi

www.scriptsell.net