anak1

Dinamika Perpustakaan Modern: Mendobrak Pakem Perpustakaan Tradisional

Oleh: Muhammad Bahrudin, Pustakawan di Badan Standardisasi Nasional

Pernahkah Anda mendengar lelucon tua tentang perpustakaan berikut ini?

Seorang bocah masuk ke perpustakaan dan meminta burger dan kentang goreng. “Anak muda!” Teguran pustakawan membuatnya terkejut. “Anda berada di perpustakaan.” Jadi kemudian, anak itu mengulangi perintahnya, hanya saja kali ini dia sambil berbisik.

Begitu banyak yang telah berubah dalam perpustakaan dalam beberapa tahun terakhir. Adegan semacam ini mungkin tidak begitu terlalu mengada-ada. Banyak perpustakaan telah menjadi pusat komunitas yang ramai di mana berbicara keras-keras dan bahkan makan benar-benar bisa diterima.

Sebagai contoh Perpustakaan Umum Boston, yang didirikan pada tahun 1848 dan merupakan perpustakaan umum tertua di negara tersebut, bergerak cepat ke arah itu. Dengan renovasi besar yang telah berlangsung, lembaga ini melanggar dari pakem perpustakaan pada umumnya untuk menunjukkan perubahan yaitu sisi yang lebih ramah sisi ke pengunjung. Rancangan interior meliputi ruang ritel baru, bagian souped-up untuk remaja, dan bangku bar tinggi di mana pengunjung dapat membawa laptop mereka dan melihat keluar ke bagian atas Boylston Street.

“Anda akan dapat duduk di sini dan bekerja sambil melihat dunia berlalu,” kata Amy Ryan, presiden perpustakaan, pada tur baru-baru. “We’re turning ourselves outward,” lanjutnya.

Rencana tersebut mungkin mengejutkan bagi siapa pun yang berpikir bahwa di era digital, perpustakaan yang mereka pikir ibarat suaka sunyi dari masa lalu, telah melangkah lebih jauh.

Penggunaan perpustakaan telah meningkat di seluruh negeri untuk berbagai alasan, para pustakawan mengatakan, termasuk resesi, ketersediaan teknologi baru dan karena perpustakaan telah me-reimagining sendiri. Di antaranya yang lebih inovatif adalah Perpustakaan Umum Chicago, yang menawarkan maker lab gratis, dengan akses ke printer 3-D, pemotong laser dan mesin penggilingan. The Lopez Island Library di Washington State menawarkan instrumentasi musik dalam mode checkout-nya. Di New York, Perpustakaan Pertanian di Cicero, bagian dari Perpustakaan Umum Northern Onondaga, meminjamkan sebidang tanah yang pelanggan dapat belajar praktik penanaman organik di sana.

Seiring dengan inovasi baru tersebut, perpustakaan menyajikan tampilan secara lebih terbuka dan dramatis terhadap dunia luar, menggunakan banyak kaca, menyediakan tempat duduk yang nyaman dan memungkinkan untuk membawa makanan dan minuman.

“Ini adalah apa yang terjadi di banyak perpustakaan, kreasi yang makin terbuka dan lingkungan fisik yang nyaman,” kata Joe Murphy, seorang pustakawan dan konsultan perpustakaan di Reno, Nev. “Gagasan tersbut tidak hanya untuk meningkatkan kehadiran tetapi untuk memaksimalkan kreativitas masyarakat.”

Libraries have long facilitated the “finding” of information, he said. “Now they are facilitating the creating of information.”

Memang benar bahwa saat ini perpustakaan tidak hanya memfasilitasi orang untuk menemukan informasi tapi lebih dari itu sekarang perpustakaan juga memfasilitasi mereka dalam menciptakan informasi. Sebagai contoh lagi, di Perpustakaan Boston yang baru, disana menyediakan Teen Center (pusat remaja) yang kemudian diberi nama dengan Ruang Homago di mana para remaja bisa ‘hang out‘, main-main dan ‘geek out‘. Ruang ini juga dilengkapi dengan lounge, ruang bermain, lab digital, restoran, software dan hardware untuk merekam musik dan ruang komik. Desain ruang yang demikian biasa disebut dengan eco urban chic.

CIMG1396

Pada era 70-an, pengunjung perpustakaan akan datang ke pustakawan, mengajukan pertanyaan dan sang pustakawan akan mencoba menemukan jawaban. Namun, sekarang ini sebaliknya, pengunjung yang datang ke perpustakaan datang dengan jutaan informasi yang dia dapatkan di internet dan mereka meminta pustakawan untuk membantu menyaring informasi yang paling relevan untuk mereka. Paling tidak, perpustakaan masih menyediakan buku ketika satu perpustakaan di San Antonio misalnya, telah melakukan lebih jauh dari itu. The BiblioTech bisa jadi hanyalah sebuah jajaran komputer, e-reader, dan ipad bar.

Tujuannya adalah sama dengan perpustakaan tradisional yaitu untuk membantu pelanggan mengakses informasi. Tapi apakah masyarakat akan mengambil untuk itu adalah pertanyaan lain. The Santa Rosa Library, perpustakaan cabang di Tucson beralih menjadi perpustakaan digital pada tahun 2002, tetapi beberapa tahun kemudian, mereka membawa kembali buku. Sebabnya tak lain karena banyak konten tidak tersedia secara digital, dan pengunjung ingin koleksi tercetak. Ketika e-book tengah mencari popularitas, koleksi tercetak telah dan masih menjadi raja. Pada 2012, menurut Pew Research Center, 28 persen orang dewasa secara nasional membaca e-book, sementara 69 persen membaca buku cetak dan hanya 4 persen yang membaca e-book saja.

Sumber: impactdesignhub.org

Pada intinya ialah perpustakaan harus berkembang mengikuti arah perkembangan teknologi tetapi juga tetap mengedepankan orientasi pengguna perpustakaan tersebut. Jangan sampai ketika perpustakaan berkembang terlalu jauh justru tidak bisa mengakomodir kebutuhan pengunjungnya. Itu hanya akan jadi kesia-siaan belaka sebagaimana tidak tercapainya tujuan dan fungsi perpustakaan tersebut pada awalnya.

Perpustakaan, entah itu yang menganggap dirinya sebagai konvensional, modern, hybrid dan atau sebagainya memang sudah seharusnya tidak selalu mengikuti pakem yang kolot. Perpustakaan harus berbenah menuju ke area yang lebih dan semakin terbuka dengan dinamika masyarakat yang notabene sebagai penggunanya. Sebagai pengguna ataupun pustakawan, dalam kacamata saya pribadi, akan merasa lebih nyaman ketika perpustakaan menjadi area terbuka dimana kita bisa berinteraksi sekaligus bertukar informasi secara cerdas dan dalam batasan-batasan yang tidak mengekang hasrat pengguna maupun pustakawan. Perpustakaa, pustakawan dan pengunjung haruslah menjadi mitra yang bisa saling berbagi dalam kancah dunia informasi, bukan sebagai mitra vertikal yang berdasarkan kepentingan.

Referensi:

Seeye, Katharine Q. 2014. Breaking Out of the Library Mold, in Boston and Beyond. Diakses dari http://www.nytimes.com/2014/03/08/us/breaking-out-of-the-library-mold-in-boston-and-beyond.html

www.scriptsell.net